top of page

7 Cara Ampuh Mencegah Fraud Deepfake di Bisnis Retail

Fraud

Bisnis retail kini bergerak semakin cepat. Transaksi bisa terjadi dari toko fisik, website, marketplace, aplikasi, hingga WhatsApp atau social commerce. Di satu sisi, digitalisasi membuat operasional lebih praktis dan customer experience semakin mudah. Namun di sisi lain, perkembangan artificial intelligence juga membawa risiko baru, salah satunya adalah fraud deepfake yang kini bisa menyerang proses bisnis sehari-hari. Dengan deepfake technology, pelaku kejahatan bisa membuat deepfake videos, deepfake images, fake images, bahkan meniru person’s face atau person’s voice secara meyakinkan. Dalam konteks bisnis retail, hal ini bisa dimanfaatkan untuk menciptakan deepfake scams, seperti menyamar sebagai owner, CEO, CFO, store head, atau finance manager untuk meminta transfer dana, akses sistem, atau data customer.

Salah satu ancaman yang mulai banyak diperhatikan adalah fraud berbasis deepfake. Dengan bantuan Generative AI, pelaku kejahatan kini bisa meniru suara, wajah, bahkan gaya bicara seseorang. Dalam konteks bisnis, ini bisa digunakan untuk menyamar sebagai owner, CEO, CFO, store head, finance manager, atau pihak internal lain yang terlihat meyakinkan.

Bagi industri retail, risiko ini tidak bisa dianggap jauh. Retail memiliki banyak titik operasional yang rentan, mulai dari approval pembayaran vendor, akses data customer, pengelolaan stok, akses sistem POS, promo, refund, hingga komunikasi antar cabang. Jika proses bisnis masih banyak mengandalkan instruksi manual lewat chat, telepon, atau video call tanpa verifikasi tambahan, deepfake bisa membuka peluang fraud yang merugikan perusahaan.

Contohnya, seorang karyawan finance bisa menerima panggilan suara yang terdengar seperti atasannya dan diminta segera melakukan transfer pembayaran vendor. Tim operasional bisa diminta membagikan akses sistem dengan alasan urgent. Customer service bisa diarahkan untuk mengirim data customer tertentu karena mengira instruksi tersebut berasal dari pihak internal.

Risiko ini semakin besar karena deepfake fraud tidak selalu terlihat seperti serangan teknis. Kadang, bentuknya hanya berupa video call singkat, pesan suara, atau instruksi urgent yang terlihat normal. Karyawan bisa saja falling victim karena percaya bahwa suara atau wajah yang muncul benar-benar berasal dari atasan atau pihak internal perusahaan.

Dalam skenario lain, pelaku juga bisa menggunakan voice clone untuk meniru suara seseorang, membuat synthetic media, atau create fake images yang terlihat seperti dokumen, bukti identitas, maupun materi visual palsu. Jika tidak ada proses verifikasi tambahan, bisnis retail bisa mengalami kerugian karena sending money ke pihak yang salah atau membagikan data sensitif tanpa izin. Karena itu, perusahaan retail perlu mulai membangun sistem keamanan yang membantu tim avoid falling victim dari instruksi palsu. Edukasi karyawan tetap penting, tetapi tidak cukup jika proses approval, akses data, dan aktivitas sistem masih mengandalkan kepercayaan manual. Bisnis membutuhkan lapisan keamanan yang bisa memverifikasi identitas, perangkat, akses, dan aktivitas secara lebih konsisten.

Berikut 7 cara ampuh mencegah fraud deepfake di bisnis retail Anda

1. Jangan Mengandalkan Instruksi dari Satu Channel Saja

Kesalahan umum dalam operasional retail adalah terlalu percaya pada satu channel komunikasi. Misalnya, instruksi pembayaran hanya lewat WhatsApp, permintaan akses hanya lewat telepon, atau approval hanya berdasarkan pesan singkat dari atasan.

Di tengah ancaman deepfake, pola seperti ini sangat berisiko. Suara dan wajah bisa dipalsukan, akun chat bisa diretas, dan identitas digital bisa dimanipulasi. Karena itu, bisnis retail perlu menerapkan proses verifikasi berlapis untuk aktivitas penting.

Untuk permintaan yang menyangkut transfer dana, akses sistem, perubahan data, atau pengiriman informasi sensitif, perusahaan sebaiknya memiliki aturan konfirmasi tambahan. Misalnya melalui sistem approval resmi, validasi identitas, atau pengecekan role pengguna sebelum tindakan dilakukan.

2. Terapkan Prinsip Zero Trust untuk Setiap Akses

Dalam keamanan modern, perusahaan tidak bisa lagi menggunakan pola ā€œpercaya dulu, cek belakanganā€. Pendekatan yang lebih aman adalah Zero Trust, yaitu prinsip bahwa setiap user, device, dan request akses harus selalu diverifikasi.

Dengan Zero Trust, seseorang tidak otomatis mendapat akses hanya karena terlihat seperti atasan, terdengar seperti manager, atau menggunakan akun internal. Sistem tetap perlu mengecek apakah identitasnya valid, perangkatnya aman, lokasinya wajar, dan akses yang diminta sesuai dengan role pekerjaannya.

Zero trust

Di sinilah SealSuite dapat membantu. SealSuite mendukung pendekatan Zero Trust untuk membantu perusahaan mengamankan akses ke aplikasi, sistem internal, data, dan perangkat kerja. Untuk bisnis retail yang memiliki banyak cabang, banyak user, dan banyak aplikasi operasional, pendekatan ini penting agar akses tidak diberikan sembarangan.

3. Gunakan Multi-Factor Authentication untuk Sistem Penting

Password saja tidak cukup. Apalagi jika karyawan menggunakan password yang lemah, password yang sama di banyak aplikasi, atau pernah menjadi korban phishing. Dalam kasus fraud deepfake, pelaku bisa menggunakan manipulasi suara atau video untuk membujuk karyawan memberikan akses, reset password, atau membagikan kode tertentu.

Karena itu, sistem penting seperti dashboard finance, POS management, inventory system, CRM, HR system, dan aplikasi internal lainnya perlu dilindungi dengan Multi-Factor Authentication / MFA.

MFA

Dengan MFA, akses tidak hanya bergantung pada username dan password. Pengguna perlu melewati faktor verifikasi tambahan. SealSuite memiliki kemampuan Identity and Access Management yang dapat membantu perusahaan mengelola autentikasi, akses user, serta kebijakan login secara lebih aman dan terpusat.

Bagi bisnis retail, ini sangat berguna untuk mengurangi risiko akun internal disalahgunakan, terutama ketika pelaku mencoba masuk ke sistem dengan identitas palsu atau kredensial yang dicuri.

4. Batasi Akses Berdasarkan Role dan Kebutuhan Kerja

Tidak semua karyawan perlu mengakses semua data. Tim store tidak selalu perlu melihat data finance. Tim finance tidak selalu perlu mengakses seluruh data customer. Tim marketing tidak selalu perlu masuk ke sistem inventory secara penuh.

Semakin luas akses yang diberikan, semakin besar risiko jika ada akun yang disalahgunakan. Karena itu, bisnis retail perlu menerapkan role-based access control, yaitu akses diberikan sesuai jabatan, tanggung jawab, dan kebutuhan kerja.

SealSuite dapat membantu perusahaan mengelola identity, role, dan akses user dalam satu platform. Dengan pengaturan akses yang lebih rapi, perusahaan bisa memastikan bahwa setiap karyawan hanya dapat mengakses sistem dan data yang memang relevan dengan pekerjaannya.

Dalam konteks deepfake, ini menjadi lapisan perlindungan penting. Kalaupun ada karyawan yang tertipu oleh instruksi palsu, dampaknya bisa dibatasi karena akses tetap dikontrol oleh policy sistem.

5. Pastikan Hanya Perangkat Aman yang Bisa Mengakses Sistem

Fraud tidak selalu terjadi karena identitas palsu. Kadang, pelaku masuk melalui perangkat yang tidak aman, device pribadi yang tidak terkelola, atau laptop karyawan yang sudah terinfeksi malware.

Bagi bisnis retail, ini sangat relevan karena banyak perusahaan memiliki banyak perangkat kerja: laptop tim pusat, komputer toko, perangkat kasir, tablet operasional, hingga device yang digunakan tim lapangan. Jika tidak dikelola dengan baik, perangkat tersebut bisa menjadi pintu masuk serangan.

Security

SealSuite memiliki kemampuan Endpoint Management and SecurityĀ yang membantu perusahaan mengelola perangkat, melakukan pengecekan keamanan, menerapkan security baseline, dan memastikan device yang digunakan sesuai standar perusahaan.

Dengan begitu, akses ke sistem penting tidak hanya dilihat dari siapa user-nya, tetapi juga dari perangkat apa yang digunakan. Jika perangkat tidak aman atau tidak sesuai policy, akses bisa dibatasi atau memerlukan verifikasi tambahan.

6. Lindungi Data Customer dengan Data Loss Prevention

Retail menyimpan banyak data penting, mulai dari nama customer, nomor telepon, alamat, riwayat pembelian, data loyalty program, hingga informasi transaksi. Data ini sangat berharga dan bisa disalahgunakan jika jatuh ke tangan yang salah.

Dalam skenario deepfake, pelaku bisa menyamar sebagai pihak internal dan meminta data customer dengan alasan urgent. Misalnya untuk campaign, audit, refund, atau kebutuhan operasional. Jika karyawan tidak memiliki panduan dan sistem pengaman, data bisa dikirim tanpa kontrol.

DLP

Untuk mencegah hal ini, perusahaan membutuhkan Data Loss Prevention / DLP. SealSuite dapat membantu mendeteksi dan mengontrol risiko kebocoran data melalui pengawasan aktivitas endpoint, kontrol transfer data, serta kebijakan perlindungan terhadap data sensitif.

Dengan DLP, perusahaan bisa mengurangi risiko data customer dikirim keluar tanpa izin, dipindahkan ke perangkat tidak resmi, atau dibagikan melalui channel yang tidak aman.

7. Siapkan Audit Log untuk Melacak Aktivitas Mencurigakan

Ketika insiden terjadi, perusahaan perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang mengakses sistem? Dari perangkat mana? Kapan akses dilakukan? Data apa yang dibuka? Apakah ada aktivitas tidak wajar?

Tanpa audit log, investigasi akan sulit dilakukan. Perusahaan hanya bergantung pada percakapan chat, pengakuan karyawan, atau catatan manual yang belum tentu lengkap.

SealSuite membantu perusahaan meningkatkan visibility terhadap aktivitas akses dan keamanan. Dengan audit log dan monitoring yang lebih baik, tim IT atau security dapat menelusuri aktivitas mencurigakan dan mengambil tindakan lebih cepat.

Bagi bisnis retail, ini penting karena operasional biasanya melibatkan banyak user, cabang, shift kerja, dan sistem yang saling terhubung. Semakin besar skala operasional, semakin penting juga kemampuan untuk memantau dan melacak aktivitas secara terpusat.

Saatnya Retail Lebih Siap Menghadapi Fraud Digital

Deepfake bukan lagi sekadar isu fake news atau manipulasi wajah government leaders di internet. Bagi bisnis retail, ancaman ini semakin sering terjadi dan menjadi masalah bernilai miliaran dolar bagi bisnis, dengan financial fraud sebagai bentuk penipuan deepfake yang paling umum, mulai dari approval pembayaran, akses sistem, permintaan data customer, hingga instruksi melalui chat, telepon, atau video call.

Kunci pencegahannya bukan hanya mengedukasi karyawan agar lebih hati-hati, tetapi juga membangun sistem keamanan yang tidak mudah dimanipulasi. Instruksi suara, video, atau chat tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk memberikan akses, mengirim data, atau melakukan transaksi penting.

Dengan pendekatan Zero Trust, Identity and Access Management, MFA, Endpoint Security, Data Loss Prevention, dan audit log, SealSuite dapat membantu bisnis retail memperkuat keamanan akses dan data secara lebih terpusat.

Jika bisnis retail Anda mulai menghadapi tantangan dalam mengelola akses karyawan, perangkat kerja, data customer, atau risiko fraud digital, Virtuenet siap membantu Anda menemukan solusi keamanan yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Konsultasikan kebutuhan cybersecurity bisnis Anda bersama Virtuenet dan temukan bagaimana SealSuite dapat membantu membangun sistem keamanan retail yang lebih aman, terkontrol, dan siap menghadapi ancaman digital modern.





Temukan insight lainnya dari solusi Virtuenet:

FAQ (Frequently Ask Question)

  1. Apakah deepfake benar-benar bisa menyerang bisnis retail?

    Ya. Deepfake dapat digunakan untuk meniru suara atau wajah pihak internal seperti owner, CEO, CFO, finance manager, atau store leader. Tujuannya bisa berupa permintaan transfer dana, akses sistem, data customer, atau approval palsu. Ā Karena retail memiliki banyak cabang, transaksi, dan data customer, risikonya cukup besar, dan teknologi yang sama juga bisa dipakai untuk membuat fake celebrity endorsements. Kasus nyatanya sudah ada: pada 2019 seorang CEO tertipu transfer €220,000 lewat deepfake audio.

  2. Apakah SealSuite bisa mendeteksi video atau suara deepfake secara langsung?

    SealSuite bukan tools utama untuk mendeteksi keaslian audio atau video deepfake. Namun, banyak konten seperti ini dibuat dengan generative adversarial network, yaitu dua model AI yang saling menguji generator dan discriminato agar hasil media tampak sangat realistis. SealSuite membantu mengurangi dampak serangan deepfake dengan memperkuat keamanan akses, identitas, perangkat, dan data melalui Zero Trust, MFA, IAM, Endpoint Security, DLP, dan audit log.

  3. Mengapa bisnis retail perlu menerapkan Zero Trust?

    Karena dalam operasional retail, banyak user dan device yang mengakses berbagai sistem bisnis. Dengan Zero Trust, setiap akses harus diverifikasi terlebih dahulu, baik dari sisi identitas pengguna, perangkat, role, maupun kebijakan keamanan. Ini membantu mencegah akses ilegal, penyalahgunaan akun, dan kebocoran data akibat fraud digital.

Postingan Terakhir

Lihat Semua
Virtuenet IG Background 01.jpg
lark lets get started.jpg

Hubungi kami sekarang!

Thanks for submitting!

bottom of page