top of page

AI Makin Ngeri, Sekarang Bisa Bikin Aplikasi dan Edit Video dari Chat

AI Makin Ngeri, Sekarang Bisa Bikin Aplikasi dan Edit Video dari Chat

Beberapa tahun lalu, AI mungkin masih terasa seperti teknologi “tambahan” yang fungsinya sebatas menjawab pertanyaan, membuat tulisan, atau membantu brainstorming ide. Tapi sekarang? Perkembangannya sudah jauh lebih cepat.

AI mulai masuk ke proses yang lebih kompleks: membuat aplikasi, mengedit video, membangun dunia simulasi, menghasilkan aset 3D, membantu riset matematika, bahkan mengubah arah investasi perusahaan teknologi besar. Dengan kata lain, AI bukan lagi sekadar tools untuk mempercepat pekerjaan kecil. AI mulai menjadi fondasi baru dalam cara manusia bekerja, membuat konten, mengembangkan produk, dan mengambil keputusan bisnis.

Beberapa update terbaru dari Google, DeepSeek, CapCut, Meta, Microsoft, OpenAI, dan Anthropic menunjukkan satu hal penting: kompetisi AI sekarang bukan hanya soal siapa yang paling pintar, tapi siapa yang paling cepat, murah, terintegrasi, dan bisa digunakan langsung dalam workflow sehari-hari. Lalu, apa saja perkembangan AI terbaru yang perlu Anda tahu?

1. Sekarang Anda Bisa Membuat Aplikasi Android Hanya dengan Satu Prompt

Google AI Studio

Salah satu update yang paling menarik datang dari Google AI Studio. Google mengumumkan bahwa pengguna kini bisa membuat aplikasi Android native hanya dari prompt atau instruksi sederhana. Artinya, Anda cukup menjelaskan aplikasi seperti apa yang ingin dibuat, lalu AI Studio dapat membantu menghasilkan aplikasi yang bisa diuji melalui emulator dan bahkan dipasang ke perangkat Android.

Bayangkan Anda ingin membuat aplikasi sederhana untuk mencatat kebiasaan harian, menghitung stok barang, mengatur jadwal tim, atau membuat checklist operasional. Dulu, hal seperti ini membutuhkan developer, desain UI, coding, testing, dan proses teknis lainnya. Sekarang, proses awalnya bisa dipercepat hanya dengan instruksi berbasis bahasa sehari-hari. Bagi bisnis, ini bisa menjadi perubahan besar. Proses yang dulu butuh waktu berminggu-minggu untuk dibuat sebagai prototype, kini bisa dimulai hanya dalam hitungan menit.

2. DeepSeek Membuat AI Super Murah Jadi Permanen

DeepSeek

Perkembangan AI tidak hanya terjadi dari sisi fitur, tapi juga harga. DeepSeek dilaporkan membuat pemangkasan harga 75% untuk model V4-Pro menjadi permanen. Menurut Reuters, biaya API DeepSeek V4-Pro kini berada pada kisaran sekitar 0,025 hingga 6 yuan per satu juta token, tergantung jenis penggunaan.

Ini penting karena biaya AI adalah salah satu tantangan terbesar dalam implementasi bisnis. Banyak perusahaan ingin menggunakan AI, tetapi khawatir dengan biaya API, komputasi, integrasi, dan penggunaan dalam skala besar. Dengan model yang lebih murah, peluang adopsi AI bisa semakin luas. Startup, UMKM, dan perusahaan menengah bisa mulai bereksperimen dengan AI tanpa harus langsung mengeluarkan biaya besar. Misalnya untuk chatbot customer service, analisis dokumen, ringkasan meeting, pencarian data internal, atau otomasi workflow sederhana.

3. Edit Video di CapCut Akan Terintegrasi Langsung ke Gemini

CapCut Gemini

Kabar menarik lainnya datang dari CapCut dan Google Gemini. CapCut dikabarkan menjalin kerja sama dengan Google untuk membawa tools editing gambar dan video langsung ke dalam aplikasi Gemini.

Ini bisa menjadi perubahan besar untuk dunia content creation. Selama ini, proses membuat konten biasanya terpisah-pisah. Ide dibuat di satu aplikasi, script dibuat di tools lain, desain dibuat di platform berbeda, lalu editing video dilakukan di aplikasi khusus seperti CapCut. Dengan integrasi seperti ini, workflow bisa menjadi lebih ringkas. Pengguna bisa memulai dari ide, membuat konsep, lalu lanjut ke proses editing visual dalam satu lingkungan berbasis chat.

Bagi tim marketing, kreator konten, dan bisnis yang aktif di media sosial, ini cukup relevan. Produksi konten short-form seperti Reels, TikTok, atau YouTube Shorts bisa menjadi lebih cepat. Ide yang tadinya hanya berupa kalimat bisa lebih mudah diubah menjadi visual atau video siap edit.

4. Meta Memangkas Ribuan Pekerjaan untuk Mendanai AI

Meta

Perkembangan AI juga membawa dampak besar pada strategi perusahaan teknologi. Meta dilaporkan akan memangkas sekitar 8.000 pekerjaan sebagai bagian dari restrukturisasi global untuk mendukung investasi besar di bidang AI. Laporan The Times menyebut Meta juga mengalihkan ribuan karyawan ke tim yang berfokus pada AI, dengan belanja modal yang dapat mencapai sekitar $145 miliar tahun ini.

Ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi sekadar proyek eksperimen. Bagi perusahaan sebesar Meta, AI sudah menjadi prioritas bisnis utama. Investasi mereka bukan hanya pada model AI, tetapi juga infrastruktur, pusat data, komputasi, dan produk berbasis AI.

5. Google Mengubah Street View Menjadi Simulator Dunia Nyata

Google DeepMind

Google DeepMind juga memperluas kemampuan Project Genie dengan menghubungkannya ke Google Street View. Dengan integrasi ini, Genie bisa membuat dunia virtual yang berangkat dari lokasi nyata menggunakan imagery Street View. Google menyebut kemampuan ini masih berada dalam tahap eksperimen dan saat ini tersedia untuk lokasi di Amerika Serikat, dengan rencana ekspansi ke lebih banyak wilayah.

Secara sederhana, AI tidak lagi hanya membuat gambar atau video dari prompt. AI mulai bisa membangun lingkungan interaktif yang dapat dijelajahi. Ini juga membuka potensi besar untuk dunia robotics. Jika AI bisa memahami dan mensimulasikan lingkungan nyata, maka robot dan sistem otomatisasi bisa dilatih dalam dunia virtual sebelum diterapkan di dunia fisik. Dampaknya tidak hanya untuk hiburan. Teknologi seperti ini bisa memengaruhi industri properti, retail, manufacturing, logistik, pendidikan, dan smart city.

6. OpenAI Membuat Terobosan pada Keyakinan Matematika 80 Tahun

OpenAI

Salah satu update yang cukup mengejutkan datang dari OpenAI. Sebuah model reasoning OpenAI dilaporkan membuat terobosan pada problem matematika yang berkaitan dengan Paul Erdős, matematikawan legendaris yang mengajukan masalah tersebut pada 1946.

Namun, penting untuk menggunakan wording yang tepat. Ini bukan berarti AI sudah “menyelesaikan semua matematika” atau menggantikan matematikawan. Yang terjadi adalah AI menemukan konstruksi baru yang menantang keyakinan lama dalam salah satu problem geometri.

Kenapa ini penting? Karena selama ini AI sering dianggap kuat dalam pattern recognition, tetapi belum tentu mampu menghasilkan insight baru di bidang teoretis. Terobosan seperti ini menunjukkan bahwa AI mulai punya potensi untuk membantu riset ilmiah, bukan hanya tugas administratif.

7. Anthropic Dilaporkan Membayar SpaceX $1,25 Miliar per Bulan untuk AI Compute

SpaceX Anthropic

Di balik kemampuan AI yang semakin canggih, ada satu hal yang sering tidak terlihat: biaya komputasi yang sangat besar. Reuters melaporkan Anthropic sepakat membayar SpaceX sekitar $1,25 miliar per bulan untuk akses compute hingga Mei 2029. Kesepakatan ini menunjukkan betapa mahal dan strategisnya infrastruktur komputasi dalam industri AI.

Ini menjelaskan kenapa perusahaan AI besar berlomba mendapatkan akses ke data center, GPU, chip, dan sumber daya komputasi. Model AI yang lebih canggih membutuhkan infrastruktur yang jauh lebih besar.

Dengan kata lain, perang AI bukan hanya soal aplikasi yang terlihat di depan pengguna. Di belakang layar, ada perang infrastruktur yang nilainya sangat besar. Bagi bisnis, ini menjadi pengingat bahwa AI bukan hanya soal “pakai tools terbaru”. Perusahaan perlu memahami fondasi yang lebih luas: data, keamanan, integrasi, infrastruktur, governance, dan biaya penggunaan jangka panjang.

8. Microsoft Open-Source Teknologi 3D Generation

Trellis.2

Microsoft juga ikut mendorong perkembangan AI generatif di bidang 3D. Melalui TRELLIS dan TRELLIS.2, Microsoft memperkenalkan model image-to-3D open-source yang dapat menghasilkan aset 3D berkualitas tinggi dari input gambar atau teks.

Ini menarik karena pembuatan aset 3D biasanya membutuhkan skill khusus, software berat, dan waktu produksi yang tidak sebentar. Dengan AI 3D generation, proses awal pembuatan aset untuk game, simulasi, desain produk, animasi, AR/VR, hingga e-commerce bisa menjadi lebih cepat.

9. Atlas Belajar Mengangkat Benda Berat Lewat Jutaan Simulasi

Boston

Perkembangan AI juga semakin terasa di dunia robotik. Boston Dynamics memperlihatkan bagaimana Atlas, robot humanoid mereka, dilatih untuk melakukan pekerjaan fisik yang lebih kompleks, termasuk mengangkat dan memindahkan benda berat.

Yang menarik, kemampuan ini tidak hanya dilatih langsung di dunia nyata. Atlas juga belajar melalui banyak simulasi. Dengan simulasi tersebut, robot bisa mencoba berbagai skenario, posisi benda, beban, dan gerakan tanpa harus terus-menerus diuji secara fisik.

10. PetiChat Diklaim Bisa Menerjemahkan Emosi Hewan Peliharaan dengan Akurasi 95%

PetiChat

Salah satu update AI yang cukup unik datang dari China. Sebuah startup mengembangkan PetiChat, sebuah AI collar yang diklaim mampu menganalisis suara hewan seperti gonggongan, meongan, hingga geraman, lalu menerjemahkannya menjadi “emosi” yang bisa dibaca oleh pemilik hewan melalui ponsel.

Teknologi ini disebut menggunakan model Qwen dari Alibaba untuk memproses pola suara dan perilaku hewan. Nantinya, hasil analisis tersebut dikirim ke aplikasi di smartphone, sehingga pemilik bisa mendapatkan gambaran apakah hewan peliharaannya sedang lapar, cemas, ingin bermain, atau merasa tidak nyaman.

AI Makin Cepat, Bisnis Perlu Makin Siap

AI kini sudah masuk ke banyak area: app building, video editing, simulasi dunia nyata, riset matematika, 3D generation, sampai strategi infrastruktur perusahaan teknologi besar. Bagi bisnis, ini bukan sekadar kabar menarik untuk dibaca. Ini adalah sinyal bahwa cara kerja akan terus berubah. Perusahaan yang mulai memahami AI dari sekarang akan punya peluang lebih besar untuk beradaptasi. Sementara perusahaan yang menunggu terlalu lama bisa tertinggal dalam efisiensi, produktivitas, dan inovasi.

AI memang makin ngeri. Tapi dengan strategi yang tepat, AI bukan ancaman. AI bisa menjadi partner untuk membuat bisnis bekerja lebih cepat, lebih rapi, dan lebih siap menghadapi masa depan. Jika Anda ingin melihat bagaimana AI bisa langsung digunakan dalam operasional bisnis sehari-hari tanpa ribet, Anda bisa mulai eksplorasi solusi yang sudah siap pakai. Atau langsung konsultasikan kebutuhan bisnis Anda dengan tim Virtuenet by Prasetia untuk melihat implementasi AI yang paling relevan.





Temukan insight lainnya dari solusi Virtuenet:

FAQ (Frequently Ask Question)

  1. Apakah AI benar-benar bisa membuat aplikasi hanya dari satu prompt?

Ya, Google AI Studio kini mendukung pembuatan aplikasi Android native dari prompt. Namun, untuk aplikasi yang lebih kompleks, tetap dibutuhkan proses pengecekan, pengembangan lanjutan, testing, dan penyesuaian agar hasilnya benar-benar siap digunakan secara profesional.

  1. Apakah AI bisa menggantikan pekerjaan kreatif seperti desain dan video editing?

AI bisa membantu mempercepat proses kreatif, seperti membuat ide, draft visual, script, atau editing dasar. Namun, pekerjaan kreatif tetap membutuhkan arahan manusia, terutama untuk menjaga kualitas, storytelling, konsistensi brand, dan relevansi dengan target audience.

  1. Kenapa harga AI yang semakin murah penting untuk bisnis?

Harga AI yang semakin murah membuat lebih banyak perusahaan bisa mulai mencoba penggunaan AI dalam operasional mereka. Misalnya untuk chatbot, analisis data, ringkasan dokumen, customer service, hingga otomasi workflow. Namun, bisnis tetap perlu memperhatikan keamanan data, kualitas output, dan integrasi sistem.


Virtuenet IG Background 01.jpg
lark lets get started.jpg

Hubungi kami sekarang!

Thanks for submitting!

bottom of page