VPN vs ZTNA: Cara Modern Mengamankan Akses Jarak Jauh Karyawan
- Virtuenet Prasetia
- 19 Jul
- 6 menit membaca
Diperbarui: 27 Jul

Kerja jarak jauh dan hybrid membuat VPN jadi andalan akses karyawan ke sistem perusahaan selama bertahun-tahun. Namun cara kerja VPN yang memberi akses luas begitu terhubung kini menjadi celah yang makin sering dieksploitasi. ZTNA (Zero Trust Network Access) hadir sebagai pendekatan berbeda, memverifikasi setiap permintaan akses secara individual per aplikasi, bukan mempercayai seluruh jaringan begitu satu kredensial terverifikasi.
Artikel ini membahas kelemahan VPN tradisional, cara kerja ZTNA, perbandingan keduanya secara langsung, dan mengapa kebanyakan perusahaan akan berakhir di pendekatan hybrid. Anda akan mendapat gambaran praktis untuk menilai kesiapan perusahaan sendiri sekaligus menyusun langkah migrasi yang realistis.
Kelemahan VPN Tradisional untuk Akses Jarak Jauh
VPN dirancang untuk era ketika kebanyakan aplikasi perusahaan berada di data center internal dan karyawan sesekali bekerja dari luar kantor. Model ini membuat terowongan terenkripsi antara perangkat karyawan dan jaringan kantor, lalu memperlakukan siapa pun yang berhasil terhubung sebagai pihak tepercaya. Asumsi ini makin tidak relevan ketika aplikasi berpindah ke cloud dan karyawan bekerja dari mana saja. Tiga kelemahan berikut paling sering muncul dalam praktik.
Akses yang Terlalu Luas Begitu Terhubung
Begitu koneksi VPN berhasil dibuat, pengguna biasanya mendapat akses ke seluruh segmen jaringan, bukan hanya aplikasi yang benar-benar mereka butuhkan. Staf finance yang hanya perlu mengakses sistem akuntansi bisa saja secara teknis menjangkau server HR atau database engineering di jaringan yang sama. Model akses "semua atau tidak sama sekali" ini menyulitkan tim IT menerapkan prinsip least privilege, yaitu memberi akses seminimal mungkin sesuai kebutuhan kerja. Semakin luas akses yang diberikan, semakin besar pula potensi kerugian jika satu akun disalahgunakan.
Risiko Lateral Movement Saat Kredensial Bocor

Lateral movement adalah kondisi ketika penyerang yang berhasil membobol satu titik masuk kemudian bergerak leluasa ke sistem lain di jaringan yang sama. VPN tradisional mempermudah pergerakan ini karena begitu autentikasi awal terlewati, jaringan internal cenderung minim pemeriksaan tambahan. Laporan ThreatLabz VPN Risk Report 2025 dari Zscaler mencatat 56% organisasi melaporkan insiden yang melibatkan eksploitasi VPN dalam setahun terakhir, sementara jumlah kerentanan (CVE) pada produk VPN naik 82,5% sejak 2020 hingga 2025. Sebagian besar kerentanan itu bahkan tergolong berisiko tinggi hingga kritis.
Masalah Performa dan Skalabilitas
VPN konvensional biasanya mengarahkan seluruh lalu lintas internet karyawan melalui data center pusat, pola yang dikenal sebagai hairpinning. Untuk aplikasi cloud modern seperti email atau tools kolaborasi, rute ini menambah latensi yang sering dikeluhkan karyawan. Skalabilitas juga jadi tantangan ketika jumlah karyawan remote melonjak, karena kapasitas VPN gateway terbatas dan penambahannya butuh investasi infrastruktur baru. Pengalaman pengguna yang buruk pada akhirnya mendorong karyawan mencari jalan pintas yang justru menambah risiko keamanan baru.
Apa Itu ZTNA (Zero Trust Network Access)?
ZTNA adalah pendekatan akses jarak jauh yang menerapkan prinsip zero trust, yaitu tidak ada pengguna atau perangkat yang otomatis dipercaya meski sudah berhasil login. Setiap permintaan akses diverifikasi secara individual berdasarkan identitas pengguna, kondisi perangkat, dan konteks lain sebelum diizinkan menjangkau satu aplikasi tertentu. Berbeda dari VPN yang membuka akses ke seluruh jaringan, ZTNA hanya membuka jalur sempit menuju aplikasi yang memang diizinkan bagi pengguna tersebut. Pembahasan lebih lengkap soal prinsip ini tersedia di apa itu zero trust security.
Tiga karakteristik inti membedakan ZTNA dari VPN: verifikasi berkelanjutan, bukan sekali di awal sesi; akses per aplikasi, bukan per jaringan; dan visibilitas granular atas siapa mengakses apa dan kapan. Karena aplikasi tidak pernah terekspos langsung ke internet publik, ZTNA juga mempersempit permukaan serangan yang bisa dieksploitasi dari luar. Momentum ke arah ini cukup nyata. Gartner sebelumnya memprediksi setidaknya 70% penerapan akses jarak jauh baru akan mengandalkan ZTNA, bukan VPN, mulai 2025, naik dari kurang dari 10% pada akhir 2021.
VPN vs ZTNA: Perbandingan Lengkap
Tabel berikut merangkum perbedaan utama VPN dan ZTNA pada beberapa dimensi yang paling relevan bagi pengambilan keputusan bisnis.
Dimensi | VPN Tradisional | ZTNA |
Model kepercayaan | Percaya penuh setelah terhubung ke jaringan | Verifikasi berkelanjutan di setiap permintaan akses |
Cakupan akses | Seluruh segmen jaringan | Hanya aplikasi spesifik yang diizinkan |
Risiko lateral movement | Tinggi, karena akses jaringan luas | Lebih rendah, karena akses dibatasi per aplikasi |
Visibilitas pengguna | Terbatas setelah koneksi terbentuk | Granular, tercatat per aplikasi dan sesi |
Performa aplikasi cloud | Berpotensi melambat akibat hairpinning | Umumnya lebih ringkas, rute langsung ke aplikasi |
Eksposur ke internet publik | Gateway VPN bisa jadi target langsung | Aplikasi tersembunyi dari akses publik langsung |
Kompleksitas implementasi awal | Relatif sederhana, infrastruktur sudah umum | Butuh pemetaan aplikasi dan kebijakan akses lebih rinci |
Kecocokan aplikasi legacy on-premise | Baik, sudah lama jadi standar | Baik, sebagian butuh konektor tambahan |
Tabel ini bukan berarti ZTNA otomatis unggul di setiap situasi. VPN tetap relevan untuk kebutuhan tertentu, terutama akses site-to-site antar kantor cabang atau data center. Yang berubah adalah bagaimana kedua pendekatan ini idealnya dikombinasikan, bukan dipertentangkan sebagai pilihan biner.
Hybrid Reality: VPN Terkelola Berdampingan dengan Zero Trust
Migrasi total dari VPN ke ZTNA dalam sekali jalan jarang realistis, apalagi bagi perusahaan dengan aplikasi legacy yang sudah berjalan bertahun-tahun. Sebagian sistem on-premise lama tidak dirancang untuk model akses berbasis identitas modern, sehingga untuk sementara tetap membutuhkan koneksi jaringan konvensional. Kebutuhan site-to-site antar kantor cabang, pabrik, atau gudang juga masih relevan dengan VPN dan SD-WAN, terlepas dari strategi zero trust yang diterapkan untuk akses individual karyawan.
Realitas paling umum di lapangan adalah pendekatan hybrid. VPN tetap dikelola dengan disiplin untuk kebutuhan jaringan site-to-site dan aplikasi legacy, sementara ZTNA diterapkan untuk akses individual ke aplikasi yang lebih sensitif atau berbasis cloud. Kuncinya adalah tetap menerapkan prinsip zero trust di kedua jalur ini, termasuk memperketat kebijakan akses pada VPN yang masih dipakai, bukan mengasumsikan VPN otomatis aman karena sudah lama berjalan tanpa masalah. Baca juga keamanan data untuk direksi untuk memahami risiko akses jarak jauh dari sudut pandang pengambilan keputusan bisnis.
Migrasi Bertahap dari VPN ke ZTNA: Roadmap Praktis

Migrasi yang terburu-buru berisiko mengganggu operasional, sementara migrasi yang terlalu lambat membiarkan celah keamanan terbuka lebih lama dari seharusnya. Survei ThreatLabz Zscaler 2025 mencatat 65% organisasi berencana mengganti sebagian layanan VPN dalam setahun ke depan, dan 81% berencana menerapkan strategi zero trust dalam 12 bulan mendatang. Lima langkah berikut membantu perusahaan Anda bergerak bertahap dengan risiko yang tetap terkendali.
Petakan aplikasi dan pola akses. Identifikasi aplikasi paling sensitif dan siapa saja yang benar-benar membutuhkan akses ke masing-masing aplikasi tersebut.
Mulai dari kelompok bernilai tinggi dan berisiko tinggi. Prioritaskan akses vendor pihak ketiga, kontraktor, atau aplikasi keuangan, area yang paling sering jadi titik masuk insiden.
Jalankan VPN dan ZTNA berdampingan selama transisi. Tidak perlu mematikan VPN sebelum ZTNA benar-benar teruji stabil untuk kelompok pengguna awal.
Perluas bertahap per divisi atau aplikasi. Gunakan hasil evaluasi kelompok awal untuk menyempurnakan kebijakan sebelum diperluas ke seluruh perusahaan.
Pantau dan sempurnakan kebijakan akses secara berkelanjutan. Zero trust bukan proyek yang selesai sekali jalan, melainkan proses yang terus disesuaikan seiring bertambahnya aplikasi dan tim baru.
Perusahaan yang mencoba migrasi sekaligus tanpa tahapan ini sering menghadapi penolakan karyawan akibat gangguan kerja mendadak. Pendekatan bertahap juga memberi waktu bagi tim IT mengevaluasi anggaran secara lebih presisi, bukan menghitung estimasi kasar di awal proyek. Jika efisiensi biaya jadi pertimbangan utama, strategi efisiensi biaya IT dapat membantu menyusun prioritas investasi keamanan tanpa mengorbankan kontrol yang penting.
FAQ
Apa itu ZTNA?
ZTNA (Zero Trust Network Access) adalah pendekatan akses jarak jauh yang memverifikasi setiap permintaan akses secara individual berdasarkan identitas, kondisi perangkat, dan konteks, alih-alih mempercayai otomatis siapa pun yang sudah terhubung ke jaringan.
Apakah ZTNA sepenuhnya menggantikan VPN?
Tidak selalu, terutama bagi perusahaan dengan aplikasi legacy atau kebutuhan koneksi site-to-site antar kantor cabang. Kebanyakan perusahaan menjalankan pendekatan hybrid, yaitu VPN untuk kebutuhan jaringan tertentu dan ZTNA untuk akses aplikasi individual yang lebih sensitif.
Apakah ZTNA cocok untuk perusahaan kecil dan menengah?
Cocok, terutama karena ZTNA modern umumnya berbasis cloud dan tidak membutuhkan investasi infrastruktur jaringan sebesar VPN gateway tradisional. Perusahaan kecil bisa memulai dari kelompok pengguna atau aplikasi paling berisiko sebelum memperluas cakupan secara bertahap.
Berapa lama proses migrasi dari VPN ke ZTNA?
Tergantung kompleksitas aplikasi dan jumlah pengguna, tapi pendekatan bertahap dengan platform yang menyediakan template integrasi siap pakai umumnya bisa menghadirkan hasil awal dalam hitungan minggu. Migrasi menyeluruh ke seluruh perusahaan biasanya tetap berjalan bertahap selama beberapa bulan agar operasional tidak terganggu.
Apakah ZTNA membutuhkan biaya lebih mahal dibanding VPN?
Biaya awal bisa bervariasi tergantung skala dan platform yang dipilih, tapi perhitungan biaya jangka panjang perlu memasukkan potensi kerugian akibat insiden yang berhasil dicegah. Pendekatan hybrid yang memanfaatkan infrastruktur VPN yang sudah ada juga membantu menekan biaya migrasi dibanding mengganti semuanya sekaligus.
Kesimpulan
VPN tradisional bukan teknologi yang salah sejak awal, tapi asumsi keamanannya makin tidak sesuai dengan cara kerja perusahaan modern. Akses yang terlalu luas, risiko lateral movement, dan masalah performa membuat ZTNA layak dipertimbangkan serius, terutama untuk aplikasi dan data paling sensitif. Namun migrasi total dalam semalam bukan tujuan yang realistis bagi kebanyakan perusahaan.
Pendekatan hybrid, VPN yang dikelola dengan disiplin berdampingan dengan ZTNA untuk akses berisiko tinggi, adalah titik awal yang jauh lebih aman dibanding menunda keputusan. Mulai dari roadmap bertahap di atas, prioritaskan aplikasi dan kelompok pengguna paling berisiko, lalu perluas seiring bertambahnya kepercayaan tim terhadap sistem baru. Baca juga panduan keamanan siber perusahaan untuk melihat bagaimana strategi akses jarak jauh ini terhubung dengan lapisan pertahanan lain di perusahaan Anda.
Amankan Akses Jarak Jauh dengan Modul Network SealSuite
Modul Network SealSuite menggabungkan VPN management, SD-WAN, dan kontrol akses (ACL) dalam satu platform berarsitektur zero-trust, sehingga perusahaan Anda tidak harus memilih total antara mempertahankan VPN atau berpindah penuh ke ZTNA. Kebijakan akses granular dapat diterapkan bertahap di atas infrastruktur VPN dan jaringan yang sudah berjalan, didukung lebih dari 1.000 template integrasi siap pakai untuk mempercepat proses deployment. Klien enterprise seperti Xiaomi, Tokopedia, dan Klook tercantum di situs SealSuite sebagai penggunanya. Hubungi tim Virtuenet via WhatsApp atau virtuenet.id/contact untuk konsultasi dan demo gratis.
Referensi
Zscaler ThreatLabz - 2025 VPN Risk Report - https://www.zscaler.com/blogs/security-research/threatlabz-2025-vpn-report-why-81-organizations-plan-adopt-zero-trust-2026
Data Center Knowledge (prediksi Gartner soal ZTNA vs VPN) - https://www.datacenterknowledge.com/cybersecurity/gartner-zero-trust-will-replace-your-vpn-by-2025
SealSuite (situs resmi produk) - https://www.sealsuite.com/
%20sponsor.png)


