Menuju IT yang Lebih Ringkas: Cara Cerdas Maksimalkan Otomatisasi IT di 2026
- Virtuenet

- 29 Des 2025
- 6 menit membaca
Diperbarui: 31 Des 2025

Perusahaan modern semakin bergantung pada teknologi untuk menggerakkan operasi harian. Namun ironisnya, semakin banyak tools yang digunakan, semakin besar pula beban yang jatuh ke tim IT. Alih-alih menjadi lebih efisien, banyak organisasi justru berhadapan dengan proses yang terputus, repetitive tasks yang memakan waktu, dan automation process yang belum benar-benar terintegrasi, dan meningkatkan efisiensi, kecepatan, serta kualitas operasional perusahaan.
Pada akhirnya, IT menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengelola berbagai sistem dengan alat yang digunakan untuk mengotomatisasi tugas-tugas seperti sinkronisasi data, integrasi sistem, dan manajemen proses, mengatasi human error akibat proses manual, melakukan data entry berulang, mengatur resource allocation, memastikan keamanan, hingga menyediakan sumber daya untuk tiap departemen. Padahal, tim dapat memberikan kontribusi yang jauh lebih strategis jika memiliki sistem yang streamlined dan tidak dibebani pekerjaan kecil setiap hari.
Situasi inilah yang membuat otomatisasi IT dan implementing workflow automation menjadi kebutuhan utama memasuki 2026. Tim IT fokus pada tugas-tugas strategis, otomatisasi memungkinkan mereka mengurangi pekerjaan manual dan meningkatkan efisiensi operasional. Perusahaan yang ingin mencapai overall productivity yang lebih baik harus memahami apa itu otomasi modern, bagaimana automated workflowsĀ dapat membantu, dan bagaimana artificial intelligence serta seamless integration dan teknologi dapat mengubah cara organisasi bekerja dalam satu platform terpadu.
Tantangan Otomatisasi IT di Perusahaan Modern
Sebelum memilih tools atau membuat automation process baru, penting untuk melihat tantangan utama yang dihadapi perusahaan:
Proses Manual yang Memperlambat Operasi
Banyak organisasi masih mengandalkan repetitive tasks seperti:
Entry data manual,
Pengiriman laporan harian,
Approval via chat atau email,
Rekap spreadsheet yang berulang,
Dokumentasi yang tersimpan di berbagai tempat.
Kumpulan tasks kecil ini membuat operations sulit berkembang. Tanpa automated processes, perusahaan tidak dapat mengurangi beban kerja administratif dan tidak memiliki scalability yang dibutuhkan untuk bergerak cepat.
Workflow yang Tidak Terintegrasi
Ketika workflow automation dibuat terpisah di berbagai aplikasi, itu justru menciptakan bottleneckĀ baru. Perusahaan butuh sistem yang memiliki seamless integration, bukan patchwork antar tools.
Tanpa integrasi bawaan, automation sering gagal karena:
Data tidak sinkron,
Automated actions tidak berjalan,
Key stakeholders melewatkan update,
Tim tidak memiliki visibility di seluruh proses.
Alur kerja menjadi lebih rumit.
Minimnya Data untuk Decision Making
Decision making yang baik membutuhkan data real-time. Namun dalam banyak perusahaan, informasi tersebar di mana saja: spreadsheet, chat, email, hingga dokumen lokal.
Tanpa sistem yang streamlined operations, manajemen sulit melakukan pengambilan keputusan cepat dan tepat.
Ketergantungan Berlebih pada Tim IT
Setiap perubahan kecil mulai dari pembuatan form sampai membuat otomatisasi baru, sering harus melibatkan IT. Hal ini membuat tim IT terjebak dalam tugas-tugas operasional yang menguras waktu dan sumber daya.
Perusahaan yang ingin bergerak cepat butuh workflows yang dapat dikonfigurasi langsung oleh user tanpa coding, yang memungkinkan user untuk mengotomatisasi proses secara mandiri tanpa ketergantungan pada tim IT, sementara IT fokus pada keamanan dan integrasi tingkat lanjut.
Apa Itu Otomatisasi Proses Bisnis Modern?

Banyak orang menganggap otomatisasi hanya sekadar memindahkan proses manual ke sistem digital. Padahal, otomasi 2026 menekankan:
Automated workflows yang dapat menyesuaikan diri,
Automation process yang mendukung scalability,
Capabilities terintegrasi dalam satu platform,
Artificial intelligence untuk analisis dan ringkasan data,
Tools yang mempermudah task allocation,
Sistem yang membantu reduce human error,
Alur kerja yang bisa dikelola tanpa bantuan IT.
Ini membantu perusahaan mencapai tujuan bisnis dengan meningkatkan efisiensi, mengurangi risiko, dan mempercepat pengambilan keputusan. Dengan pendekatan ini, perusahaan dapat memaksimalkan waktu dan sumber daya untuk pekerjaan yang lebih bernilai tinggi, sesuai dengan kebutuhan dan standar organisasi.
Keamanan dalam Otomatisasi IT
Dalam era otomatisasi proses bisnis yang semakin maju, keamanan menjadi prioritas utama bagi perusahaan yang ingin mengadopsi sistem yang lebih terintegrasi dan efisien. Implementing workflow automation memang dapat mempercepat operasi, namun tanpa perhatian khusus pada aspek keamanan, perusahaan justru berisiko menghadapi ancaman baru yang lebih kompleks.
Menggunakan alat dan sumber daya yang tepat adalah langkah awal untuk membangun fondasi keamanan yang lebih baik. Teknologi seperti artificial intelligence dan machine learning kini dapat membantu mendeteksi pola ancaman secara otomatis, mengidentifikasi potensi risiko sebelum menjadi masalah besar, dan memberikan perlindungan yang lebih proaktif terhadap data dan sistem perusahaan.
Selain itu, automated workflows yang dirancang dengan baik dapat mengurangi human error, salah satu penyebab utama insiden keamanan di banyak organisasi. Dengan mengotomatiskan routine tasks dan repetitive tasks yang sensitif, perusahaan dapat memastikan bahwa proses berjalan sesuai standar, audit trail tercatat dengan jelas, dan akses ke data penting tetap terkontrol.
Seamless integration antar sistem dan aplikasi juga sangat penting untuk menjaga keamanan. Integrasi yang baik memastikan data tidak tercecer di berbagai platform, sehingga meminimalkan celah keamanan dan memudahkan pengawasan di seluruh proses otomatisasi. Hal ini memungkinkan perusahaan untuk mengelola sumber daya secara terpusat dan memastikan bahwa setiap automated action berjalan sesuai kebijakan keamanan yang telah ditetapkan.
Implementing Workflow Automation: Pendekatan yang Tepat
Transisi menuju workflow automation tidak bisa dilakukan sembarangan. Ada beberapa langkah penting sebagai step by step guide. Tujuan utama dari otomatisasi IT adalah untuk streamline proses bisnis, sehingga proses menjadi lebih sederhana, cepat, dan efisien dengan mengurangi kompleksitas serta upaya manual.
1. Identifikasi Proses Berulang
Mulai dari repetitive tasks seperti:
Input data,
Rekap laporan,
Pengiriman notifikasi,
Approval berulang.
Ini adalah kandidat utama untuk automated processes.
2. Tentukan Tujuan Otomasi
Apakah tujuannya mengurangi waktu, meningkatkan akurasi, atau memperbaiki customer satisfaction? Dengan tujuan yang jelas, automation dapat dibuat lebih tepat sasaran.
3. Libatkan Key Stakeholders
Workflow automation tidak hanya untuk IT. HR, Finance, Operasional, dan Sales harus dilibatkan sejak awal. Human resources adalah salah satu area utama yang sangat diuntungkan dari otomatisasi workflow, karena dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi kesalahan, dan mendukung kepatuhan dalam proses HR. Mereka yang memahami proses harian paling baik.
4. Pilih Platform yang Mengutamakan Integrasi
Tools yang berdiri sendiri tidak cukup. Dibutuhkan sistem yang dapat bekerja dalam satu ekosistem, mulai dari dokumen, chat, approval, meeting, hingga forms.
Di sinilah perusahaan biasanya memilih platform all-in-one seperti Lark untuk memastikan integrationĀ berjalan mulus.
5. Uji dan Pantau Performance Metrics
Otomasi harus diukur. Dengan memantau performance metrics seperti waktu proses, tingkat error, dan kecepatan approval, perusahaan dapat memastikan automation berjalan maksimal.
Mengapa Perusahaan Membutuhkan Platform All-in-One untuk Otomatisasi?

Berdasarkan tren 2026, perusahaan yang berhasil melakukan automation adalah perusahaan yang menggunakan sistem yang:
Menghubungkan komunikasi dan proses,
Menyimpan data dalam satu tempat,
Memungkinkan automated actions tanpa coding,
Memudahkan resource allocation,
Mendukung collaboration real-time serta kerja dan praktik kerja yang efisien,
Menjaga keamanan data,
Mengurangi human error dalam proses bisnis.
Platform seperti LarkĀ menjadi popular bukan hanya karena fiturnya, tetapi karena kemampuannya menghubungkan komunikasi, workflow automation, dokumen, meeting, dan database dalam satu sistem. Dengan cara ini, implementing workflow automation tidak memerlukan banyak tools tambahan, sehingga customer satisfaction meningkat karena proses internal berjalan lebih cepat, yang lebih cepat dibandingkan metode manualĀ atau sistem terpisah.
Fitur Lark yang Mendukung Otomatisasi IT di 2026

Lark Base
Menyediakan workflow automation, automated actions, integrasi antar database, dan pembuatan alur kerja tanpa coding. Sangat efektif untuk repetitive tasks dan task allocation.
Lark Doc & Sheet
Menghilangkan kebutuhan dokumen terpisah, memungkinkan integrasi langsung ke workflows, dan mendukung artificial intelligence untuk ringkasan otomatis.
Lark Approval
Otomatisasi proses bisnis dengan alur kerja yang jelas, transparan, dan dalam satu ekosistem.
Lark Admin Console
Mengelola akses, sumber daya, struktur organisasi, dan keamanan tanpa membuat sistem tambahan.
Lark Meeting & Minutes
Notulen otomatis, summary otomatis, dan data entry otomatis yang mengurangi beban dokumentasi.
Dampak Otomatisasi Bagi Perusahaan
Dengan workflows yang terintegrasi:
Perusahaan dapat mengurangi waktu proses hingga 50%,
Sementara itu, operational activities mencakup seluruh aktivitas harian perusahaan seperti produksi, distribusi, pemasaran, dan layanan pelanggan,
IT dapat fokus pada strategi, bukan repetitive tasks,
Operations menjadi lebih efisien,
Human error berkurang drastis,
Decision making lebih cepat berkat data terpadu,
Customer satisfaction meningkat karena proses internal berjalan lebih cepat,
Tim dapat bekerja dalam satu platform dan tidak lagi berpindah-pindah aplikasi.
Inilah tujuan utama dari streamlined operations: membuat perusahaan bergerak cepat dalam satu ekosistem teknologi yang mendukung scalability dan efficiency.
Waktunya Memulai Operasi IT yang Lebih Cerdas dan Terintegrasi
Untuk menghadapi tantangan 2026, perusahaan membutuhkan sistem yang:
Dapat membantu otomatisasi end-to-end,
Memberi seamless integration dalam satu platform,
Mendukung implementing workflow automation,
Menyediakan automation yang mudah digunakan,
sekaligus memperkuat keamanan dan konsistensi proses.
Platform seperti LarkĀ memungkinkan perusahaan mengelola communication, workflow, approvals, database, dan tasks dalam satu solusi terpadu. Dengan begitu, perusahaan dapat memaksimalkan waktu dan fokus pada inovasi, bukan pekerjaan administratif.
Jika Anda ingin melihat bagaimana otomatisasi end-to-end bisa diterapkan tanpa membuat sistem yang rumit, tim Virtuenet siap membantu. Hubungi VirtuenetĀ untuk demo dan konsultasi otomasi IT Anda.
Temukan insight lainnya dari solusi Virtuenet:




