7 Penyebab Proses Tanda Tangan Manual Bikin Kerja Tim Jadi Lambat
- Virtuenet

- 8 Jul
- 6 menit membaca

Proses tanda tangan sering terlihat seperti hal kecil dalam operasional bisnis. Namun, ketika jumlah dokumen semakin banyak, pihak yang harus menyetujui semakin berlapis, dan setiap approval masih dilakukan secara manual, pekerjaan tim bisa menjadi jauh lebih lambat dari yang seharusnya.
Banyak perusahaan masih menghadapi situasi yang sama: dokumen harus dicetak, dibawa dari satu meja ke meja lain, menunggu atasan tersedia, lalu dicek ulang sebelum akhirnya bisa diproses. Dalam skala kecil, cara ini mungkin masih terasa wajar. Namun, ketika bisnis mulai berkembang, proses tanda tangan manual bisa menjadi bottleneck yang menghambat produktivitas harian.
Masalahnya bukan hanya soal dokumen yang menumpuk. Proses approval manual juga bisa membuat tim kehilangan banyak waktu untuk follow up, mengecek status, mencari dokumen, hingga memastikan siapa yang belum memberikan persetujuan. Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya bisa selesai lebih cepat justru tertunda karena proses administrasi yang belum efisien.
Berikut 7 penyebab proses tanda tangan manual bisa bikin kerja tim jadi lambat.
1. Dokumen Fisik Mudah Menumpuk
Salah satu masalah paling umum dari proses tanda tangan manual adalah banyaknya dokumen fisik yang harus disiapkan. Setiap kebutuhan approval biasanya membutuhkan formulir, lampiran, bukti pendukung, atau dokumen tambahan yang harus dicetak terlebih dahulu.
Dalam proses seperti payroll, reimbursement, purchase request, atau pengajuan internal lainnya, dokumen bisa menjadi sangat banyak. Ketika semua masih berbentuk fisik, tim harus memastikan dokumen tersebut lengkap, rapi, dan tidak hilang sebelum sampai ke pihak yang menyetujui.
Masalah ini pernah dirasakan oleh YiFang. Sebelumnya, proses penggajian membutuhkan dokumen yang sangat tebal dan harus ditandatangani oleh banyak pihak dari berbagai departemen. Proses tersebut memakan waktu berjam-jam karena tim harus mengurus tanda tangan satu per satu secara manual.
2. Approval Bergantung pada Ketersediaan Orang
Proses tanda tangan manual sangat bergantung pada keberadaan orang yang harus memberikan persetujuan. Jika approver sedang meeting, dinas luar kota, cuti, atau sulit ditemui, dokumen bisa tertahan cukup lama.
Padahal, banyak keputusan operasional membutuhkan approval yang cepat. Misalnya pengajuan pembayaran vendor, pembelian kebutuhan operasional, pengajuan cuti, atau dokumen payroll. Ketika satu orang belum tanda tangan, seluruh proses berikutnya bisa ikut tertunda.
Inilah yang membuat approval manual sering menjadi hambatan tersembunyi. Bukan karena tim tidak bekerja, tetapi karena prosesnya terlalu bergantung pada pertemuan fisik dan ketersediaan waktu approver.
3. Tim Harus Follow Up Berkali-kali
Ketika approval belum selesai, biasanya tim harus melakukan follow up secara manual. Follow up bisa dilakukan melalui chat, telepon, email, atau bahkan datang langsung ke meja approver.
Masalahnya, semakin banyak dokumen yang harus disetujui, semakin banyak juga waktu yang terbuang hanya untuk menanyakan status. Tim administrasi, HR, finance, atau operasional akhirnya menghabiskan energi untuk mengejar tanda tangan, bukan menyelesaikan pekerjaan yang lebih strategis.
Follow up manual juga berisiko menimbulkan miskomunikasi. Ada dokumen yang sudah dikirim tapi belum dibaca, ada yang lupa ditandatangani, atau ada yang tertahan karena informasinya belum lengkap. Semua ini membuat alur kerja menjadi kurang efisien.
4. Status Approval Sulit Dipantau
Dalam proses manual, tidak selalu mudah mengetahui posisi terakhir sebuah dokumen. Apakah sudah disetujui atasan pertama? Apakah masih menunggu finance? Apakah sudah masuk ke HR? Atau justru dokumennya belum sampai ke pihak terkait?
Tanpa sistem tracking yang jelas, tim harus mengecek satu per satu. Hal ini membuat proses approval menjadi tidak transparan. Ketika ada keterlambatan, tim juga sulit mengetahui titik masalahnya.
Bagi perusahaan yang memiliki banyak departemen, kondisi ini bisa menjadi semakin kompleks. Setiap divisi mungkin memiliki alur approval yang berbeda, sehingga proses pemantauan menjadi semakin sulit jika semuanya masih dilakukan secara manual.
5. Risiko Dokumen Hilang atau Terselip
Dokumen fisik memiliki risiko hilang, terselip, rusak, atau tertinggal di meja tertentu. Ketika dokumen hilang, tim harus mencetak ulang, mengumpulkan tanda tangan ulang, dan memastikan kembali seluruh proses berjalan dari awal.
Risiko ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa besar. Terutama untuk dokumen penting seperti penggajian, pembayaran, kontrak, pembelian, atau pengajuan yang memiliki deadline tertentu.
Selain itu, dokumen fisik juga menyulitkan proses pencarian arsip. Ketika perusahaan perlu mengecek riwayat approval, tim harus mencari folder, map, atau file fisik yang mungkin sudah tersimpan di tempat berbeda.
Baca Selengkapnya: 7 Cara Lark AnyGen Bantu Mengelola Report, Task, dan Follow-Up Tim
6. Proses Tidak Fleksibel untuk Alur yang Berbeda
Tidak semua approval memiliki alur yang sama. Ada pengajuan yang cukup disetujui oleh satu orang, tetapi ada juga yang perlu melewati beberapa level persetujuan berdasarkan nominal, departemen, jabatan, atau jenis kebutuhan.
Dalam proses manual, perbedaan alur ini sering membuat tim bingung. Siapa yang harus tanda tangan lebih dulu? Apakah dokumen ini perlu disetujui finance? Apakah nominal tertentu harus naik ke level manajemen? Jika tidak ada sistem yang jelas, proses approval bisa berjalan tidak konsisten.
Ketidakkonsistenan ini bukan hanya memperlambat pekerjaan, tetapi juga bisa menimbulkan risiko dalam governance perusahaan. Approval yang seharusnya melewati pihak tertentu bisa terlewat karena prosesnya masih bergantung pada ingatan atau kebiasaan manual.
7. Banyak Waktu Terbuang untuk Administrasi
Pada akhirnya, masalah terbesar dari tanda tangan manual adalah banyaknya waktu kerja yang terbuang untuk aktivitas administratif. Tim harus mencetak dokumen, mengantar berkas, menunggu tanda tangan, melakukan follow up, mengecek status, lalu mengarsipkan dokumen.
Jika proses ini terjadi setiap hari, akumulasi waktunya bisa sangat besar. Waktu yang seharusnya digunakan untuk analisis, pelayanan pelanggan, peningkatan operasional, atau pengembangan bisnis justru habis untuk mengurus dokumen.
Bagi perusahaan yang sedang bertumbuh, workflow seperti ini bisa menjadi penghambat produktivitas. Semakin besar organisasi, semakin penting memiliki proses approval yang lebih cepat, transparan, dan mudah dipantau.
Ubah Approval Manual Jadi Workflow Digital
Untuk mengurangi hambatan tersebut, perusahaan perlu mulai mengubah proses approval manual menjadi workflow digital. Dengan sistem approval digital, pengajuan tidak perlu lagi bergantung pada dokumen fisik dan tanda tangan manual.
Melalui Lark Approval, perusahaan dapat membuat alur persetujuan yang lebih rapi, cepat, dan mudah dipantau dalam satu platform kerja. Tim bisa mengajukan request secara digital, melengkapi informasi yang dibutuhkan, lalu mengirimkannya ke pihak yang sesuai berdasarkan alur approval yang sudah ditentukan.
Dengan sistem ini, proses approval tidak lagi harus menunggu dokumen berpindah tangan secara fisik. Approver dapat melihat, memeriksa, dan menyetujui pengajuan secara langsung dari perangkat yang digunakan. Proses yang sebelumnya memakan waktu berjam-jam bisa menjadi jauh lebih praktis karena cukup dilakukan dengan beberapa klik.
Pengalaman YiFang menjadi contoh nyata bagaimana approval digital dapat membantu menghemat waktu. Sebelumnya, proses penggajian membutuhkan dokumen tebal dan banyak tanda tangan manual dari berbagai departemen. Setelah menggunakan Lark Approval, proses persetujuan menjadi lebih sederhana karena approval bisa dilakukan secara digital. Dari sisi waktu, proses kerja menjadi jauh lebih hemat dan tidak lagi bergantung pada tanda tangan fisik satu per satu.
Bagaimana Lark Approval Membantu Tim Bekerja Lebih Efisien?

Dengan Lark Approval, perusahaan dapat membuat form approval sesuai kebutuhan, seperti cuti, reimbursement, payroll, purchase request, business trip, pembayaran vendor, hingga kebutuhan operasional lainnya.

Setiap form bisa disesuaikan dengan informasi yang wajib diisi, sehingga pengajuan yang masuk lebih lengkap sejak awal. Hal ini membantu mengurangi bolak-balik revisi karena data yang dibutuhkan sudah tersedia dalam satu form.
Selain itu, alur approval bisa dibuat lebih fleksibel. Misalnya, pengajuan dengan nominal tertentu harus melewati manager dan finance, sementara pengajuan lain cukup disetujui oleh atasan langsung. Dengan workflow yang jelas, proses menjadi lebih konsisten dan mudah dikontrol.
Status approval juga lebih mudah dipantau. Tim dapat mengetahui apakah pengajuan masih menunggu persetujuan, sudah disetujui, atau membutuhkan revisi. Ini membantu mengurangi follow up manual yang biasanya memakan banyak waktu.
Karena terhubung dalam ekosistem kerja Lark, proses approval juga bisa berjalan lebih seamless dengan komunikasi, dokumen, dan kolaborasi tim. Tim tidak perlu berpindah-pindah aplikasi hanya untuk mengajukan, mengecek, dan menindaklanjuti approval.
Saatnya Kurangi Bottleneck Approval di Perusahaan
Proses tanda tangan manual mungkin terasa familiar, tetapi bukan berarti selalu efektif. Ketika dokumen semakin banyak dan workflow semakin kompleks, perusahaan membutuhkan sistem approval yang lebih cepat, transparan, dan mudah digunakan oleh seluruh tim.
Dengan workflow approval digital, perusahaan bisa mengurangi dokumen fisik, mempercepat proses persetujuan, memudahkan tracking, dan membantu tim bekerja lebih fokus pada hal yang benar-benar penting.
Ingin mengetahui bagaimana Lark Approval dapat membantu perusahaan Anda membangun proses approval yang lebih rapi dan efisien? Hubungi Virtuenet by Prasetia untuk konsultasi dan demo solusi Lark sesuai kebutuhan bisnis Anda. Tim Virtuenet siap membantu perusahaan Anda mengubah proses approval manual menjadi workflow digital yang lebih cepat, transparan, dan terintegrasi.
Temukan insight lainnya dari solusi Virtuenet:
7 Cara Mengatasi IT Helpdesk yang Kewalahan Tanpa Tambah Tim
Jadwal Meeting Tim Marketing Sering Bentrok? Ini 5 Cara Bikin Lebih Rapi
OpenClaw Jadi Sorotan Dunia Cybersecurity, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
5 Cara Meningkatkan Closing Sales dari Leads yang Sudah Masuk
7 Cara Otomatisasi Bisnis agar Operasional Tidak Makin Berantakan
FAQ (Frequently Ask Question)
Apa itu approval digital?
Approval digital adalah proses persetujuan yang dilakukan melalui sistem online tanpa perlu dokumen fisik dan tanda tangan manual. Pengajuan, pengecekan, persetujuan, dan tracking status dapat dilakukan secara digital dalam satu platform.
Apakah Lark Approval bisa digunakan untuk proses payroll atau reimbursement?
Ya, Lark Approval dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan internal perusahaan, termasuk payroll, reimbursement, cuti, purchase request, business trip, pembayaran vendor, dan pengajuan operasional lainnya.
Kenapa perusahaan perlu beralih dari tanda tangan manual ke approval digital
Perusahaan perlu beralih ke approval digital agar proses persetujuan lebih cepat, mudah dipantau, hemat waktu, dan tidak bergantung pada dokumen fisik. Dengan sistem digital, risiko dokumen hilang, approval tertunda, dan follow up manual juga bisa dikurangi.
%20sponsor.png)



